Desa slow living terbaik Indonesia 2026 adalah destinasi pedesaan terkelola yang menawarkan pengalaman hidup lambat, jauh dari hiruk-pikuk kota — dengan tingkat kepuasan wisatawan mencapai 87% berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Q1 2026.
6 Desa Slow Living Terbaik Indonesia 2026:
- Desa Penglipuran, Bali — 94% kepuasan wisatawan | tata ruang adat terbaik di Asia
- Desa Baduy Luar, Banten — pengalaman detox digital autentik | tanpa listrik dan internet
- Desa Sade, Lombok — rumah adat Sasak asli | biaya terendah Rp150rb/malam
- Desa Wisata Kasongan, Yogyakarta — agrowisata gerabah + countryside living aktif
- Tana Toraja, Sulawesi Selatan — lanskap pegunungan + budaya 5.000 tahun
- Desa Merangin Geopark, Jambi — satu-satunya geopark UNESCO aktif dengan homestay desa
Apa itu Desa Slow Living dan Kenapa Tren Ini Meledak di 2026?

Desa slow living adalah kawasan pedesaan yang dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis gaya hidup lambat — di mana pengunjung bisa ikut bercocok tanam, tinggal di rumah adat, makan masakan lokal, dan benar-benar istirahat dari tekanan urban tanpa agenda yang padat.
Tren ini bukan sekadar hype. Survei BPS 2025 mencatat 63% penduduk kota besar Indonesia menyatakan mengalami urban fatigue — kelelahan akibat ritme kota yang terlalu cepat. Angka itu naik 19 poin dari 2022. Di saat bersamaan, pencarian Google untuk kata kunci “liburan ke desa” naik 214% secara year-on-year sepanjang Januari–April 2026 (Google Trends Indonesia, April 2026).
Perbedaan mendasar slow living village dengan wisata desa biasa terletak pada durasi dan imersivitas: bukan sekadar mampir foto, tapi tinggal minimal 2–3 malam, terlibat dalam kegiatan keseharian warga, dan melepas konektivitas digital secara disengaja. Ini yang membuat pengalaman healing-nya lebih dalam — dan efeknya lebih lama.
Satu hal yang jarang dibahas: bukan semua “desa wisata” adalah desa slow living. Dari 6.016 desa wisata terdaftar di Indonesia per Desember 2025 (Kemenparekraf 2025), hanya sekitar 340 yang memenuhi kriteria slow living autentik — punya homestay terkelola, aktivitas budaya aktif, dan kebijakan lingkungan yang ketat.
Key Takeaway: Slow living village yang baik bukan yang paling sepi, tapi yang paling terkelola — di mana kamu bisa menjadi bagian dari ritme desa tanpa merusaknya.
Siapa yang Cocok Pergi ke Desa Slow Living Indonesia?

Desa slow living Indonesia paling cocok untuk mereka yang butuh pemulihan mental atau ingin pengalaman budaya autentik — bukan wisatawan yang mencari hiburan instan atau fasilitas bintang lima.
Berdasarkan data profil pengunjung 6 desa dalam artikel ini (sumber: pengelola masing-masing desa, direkap Maret 2026):
| Profil Pengunjung | Proporsi | Kebutuhan Utama | Durasi Rata-rata |
| Profesional urban 25–40 tahun | 41% | Detox digital + ketenangan | 3–4 malam |
| Pasangan / keluarga muda | 28% | Pengalaman budaya bersama | 2–3 malam |
| Solo traveler Gen Z | 18% | Konten autentik + self-discovery | 2 malam |
| Peneliti / akademisi | 8% | Dokumentasi budaya lokal | 5–7 malam |
| Pensiunan / lansia aktif | 5% | Nostalgia + ketenangan | 4–5 malam |
Ada kelompok yang sering salah sasaran: wisatawan yang datang dengan ekspektasi resort. Jika kamu butuh AC, kolam renang, dan WiFi kencang, desa slow living bukan pilihan tepat — dan itu bukan kekurangan, itu fitur. Ketidaknyamanan yang terukur adalah inti dari pengalaman ini.
Yang paling diuntungkan adalah profesional dengan pekerjaan berbasis layar (developer, desainer, konsultan, pegawai kantoran) yang rata-rata menatap layar 9–11 jam per hari. Tinggal 3 malam di desa tanpa sinyal bisa lebih efektif memulihkan fokus daripada liburan pantai dengan resort mewah.
Key Takeaway: Kamu cocok ke desa slow living jika butuh pemulihan nyata — bukan hiburan. Jika kamu masih periksa email setiap jam, belum waktunya.
Cara Memilih Desa Slow Living yang Tepat untuk Kamu

Memilih desa slow living yang tepat bergantung pada empat kriteria utama: tingkat aksesibilitas, autentisitas budaya, ketersediaan homestay terkelola, dan seberapa ketat kebijakan digital detox-nya.
Banyak orang memilih berdasarkan foto Instagram — dan itu resep kecewa. Desa yang fotogenik belum tentu punya sistem pengelolaan yang baik. Berikut framework yang lebih terukur:
| Kriteria | Bobot | Cara Mengukur | Pertanyaan ke Pengelola |
| Autentisitas budaya | 30% | Apakah warga asli masih tinggal dan bekerja di sana? | “Berapa persen warga asli yang masih aktif di desa?” |
| Kualitas homestay | 25% | Kondisi sanitasi, kasur, ventilasi | Minta foto kamar asli (bukan promosi) |
| Aksesibilitas & jarak | 20% | Waktu tempuh dari kota terdekat + kondisi jalan | Cek Google Maps + forum traveler |
| Kebijakan lingkungan | 15% | Aturan sampah, larangan plastik, batas kunjungan | “Berapa kuota pengunjung per hari?” |
| Aktivitas budaya aktif | 10% | Jadwal kegiatan nyata (bukan hanya tontonan) | “Aktivitas apa yang bisa saya ikuti langsung?” |
Satu red flag yang sering diabaikan: desa yang tidak punya batas kuota pengunjung harian hampir pasti sudah terlalu ramai di peak season. Desa Penglipuran, misalnya, menerapkan batas 2.500 pengunjung per hari sejak 2024 — dan itu salah satu alasan kualitas pengalaman di sana masih terjaga.
Lihat juga tips memilih homestay pedesaan terbaik sebelum memesan — ada checklist lengkap untuk negosiasi harga dan verifikasi kondisi kamar.
Key Takeaway: Desa terbaik bukan yang paling viral, tapi yang punya sistem pengelolaan paling ketat — karena itu artinya pengalaman kamu lebih terjaga.
Harga Menginap di Desa Slow Living Indonesia 2026: Panduan Lengkap
Biaya menginap di desa slow living Indonesia 2026 berkisar antara Rp150.000 hingga Rp800.000 per malam — jauh lebih terjangkau dari resort, dengan pengalaman yang tidak bisa dibeli di tempat manapun.
Ini bukan jenis liburan yang mahal. Justru sebaliknya. Tapi ada perbedaan signifikan antara desa yang “murah karena tidak terkelola” dan yang “terjangkau karena disubsidi komunitas”. Yang kedua jauh lebih baik.
| Tier | Harga/Malam | Fasilitas | Contoh Desa | Terbaik Untuk |
| Budget | Rp150rb–Rp300rb | Kamar sederhana, kamar mandi bersama, makan 2x | Desa Sade Lombok, Desa Baduy Luar | Backpacker, solo traveler |
| Mid-range | Rp300rb–Rp500rb | Kamar pribadi, sarapan, 1–2 aktivitas termasuk | Desa Penglipuran, Kasongan | Pasangan, keluarga kecil |
| Premium | Rp500rb–Rp800rb | Kamar adat renovasi, semua makan, guided activities | Tana Toraja package, Merangin Geopark | Profesional, digital nomad jangka panjang |
Perlu dicatat: hampir semua homestay di desa slow living tidak menerima pemesanan via OTA seperti Booking.com atau Airbnb. Kamu harus menghubungi langsung pengelola desa atau Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat — ini justru bagian dari filosofi slow living-nya.
Biaya total realistis untuk 3 malam (termasuk transportasi dari kota terdekat, makan, dan aktivitas) berkisar Rp800rb–Rp2,5 juta per orang. Dibanding staycation di hotel kota dengan harga setara, nilai yang kamu dapat jauh lebih tinggi.
6 Desa Slow Living Terbaik Indonesia 2026
Enam desa slow living terbaik Indonesia 2026 dipilih berdasarkan skor autentisitas, kualitas pengelolaan, aksesibilitas, dan data kepuasan pengunjung terkini — bukan popularitas media sosial.
1. Desa Penglipuran, Bali — 94% Kepuasan Pengunjung

Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, adalah desa slow living dengan sistem tata ruang adat paling konsisten di Indonesia — seluruh 212 kepala keluarga masih menempati pekarangan dengan ukuran dan orientasi seragam sesuai aturan adat yang berlaku sejak abad ke-13.
Ini bukan rekonstruksi atau museum hidup. Warga benar-benar tinggal di sana, menjalankan pertanian bambu, dan membuka pintu rumah mereka untuk tamu yang menginap. Larangan kendaraan bermotor berlaku di seluruh jalan utama desa — hanya pejalan kaki dan sepeda yang boleh masuk.
- Terbaik untuk: Pasangan, keluarga, wisatawan internasional yang ingin budaya Bali autentik tanpa komersialisasi Kuta
- Harga homestay: Rp350rb–Rp550rb/malam (termasuk sarapan nasi Bali)
- Jarak dari Denpasar: 45 km (±1,5 jam)
- Kuota harian: 2.500 pengunjung (batas diterapkan sejak 2024)
- Rating: 4,7/5 dari 3.200+ ulasan Google (April 2026)
Pengalaman yang tidak bisa kamu dapat di tempat lain: ikut proses membuat canang sari (sesaji) bersama ibu-ibu desa setiap pagi, atau duduk di bale banjar mendengarkan gamelan latihan rutin warga. Bukan pertunjukan untuk turis — ini memang rutinitas mereka.
Satu hal yang perlu diketahui: Penglipuran sangat ramai di akhir pekan dan libur nasional. Datang di hari kerja Selasa–Kamis untuk pengalaman terbaik.
Untuk perbandingan penginapan terbaik di area ini, lihat panduan homestay pedesaan terbaik Indonesia yang mencakup opsi di luar Penglipuran utama.
Key Takeaway: Penglipuran adalah pilihan terbaik jika kamu ingin slow living dengan struktur sosial adat yang masih hidup — bukan sekadar arsitektur cantik.
2. Desa Baduy Luar, Banten — Detox Digital Paling Autentik

Desa Baduy Luar di Lebak, Banten, adalah satu-satunya destinasi slow living di Indonesia yang secara resmi dan konsisten melarang penggunaan elektronik di zona tertentu — menjadikannya pilihan terkuat untuk digital detox yang benar-benar menggigit.
Komunitas Baduy terdiri dari dua zona: Baduy Dalam (tertutup total untuk wisatawan) dan Baduy Luar (terbuka dengan aturan ketat). Di Baduy Luar, kamu masih bisa masuk dan menginap, tapi dilarang menggunakan kamera flash, dilarang membawa plastik, dan diharapkan mematikan ponsel selama menginap.
- Terbaik untuk: Profesional yang butuh putus total dari notifikasi, solo traveler pencari pengalaman ekstrem
- Harga menginap: Rp150rb–Rp250rb/malam (menginap di rumah warga)
- Jarak dari Jakarta: ±120 km (±3 jam via Rangkasbitung)
- Waktu terbaik: Oktober–Maret (hindari musim panas kering Juli–Agustus)
- Penting: Tidak ada sinyal telepon di sebagian besar wilayah — bawa peta fisik
Jujur saja: ini bukan liburan untuk semua orang. Tidur di atas tikar, tidak ada kamar mandi dalam, makan seadanya. Tapi persis di situlah nilainya. Beberapa pengunjung melaporkan ini sebagai pengalaman paling “membangunkan” yang pernah mereka rasakan — lebih dari retreat meditasi mana pun.
Baca juga pengalaman lengkap berkunjung ke Desa Baduy Luar Banten untuk persiapan yang lebih detail.
Key Takeaway: Baduy Luar bukan untuk yang setengah hati — tapi untuk yang mau, ini pengalaman paling murni yang tersisa di Jawa.
3. Desa Sade, Lombok — Kearifan Lokal Sasak dengan Biaya Paling Terjangkau

Desa Sade di Rembitan, Lombok Tengah, adalah desa adat Suku Sasak yang masih mempertahankan tradisi membangun rumah dengan campuran tanah liat dan kotoran kerbau — sebuah teknik konstruksi yang terbukti mengatur suhu ruangan secara alami tanpa AC.
Ini bukan klaim promosi. Ada logika ilmiahnya. Campuran material organik tersebut menciptakan insulasi termal yang menjaga suhu dalam ruangan di kisaran 24–27°C bahkan di tengah terik Lombok. Jika kamu pernah masuk ke dalam rumah Sade di siang hari, kamu tahu betapa dramatis perbedaannya.
- Terbaik untuk: Backpacker, wisatawan budget, peneliti arsitektur vernakular
- Harga menginap: Rp150rb–Rp200rb/malam (homestay warga)
- Jarak dari Mataram: ±50 km (±1,5 jam)
- Aktivitas unggulan: Belajar menenun kain songket Sasak langsung dari pengrajin, tur rumah adat dengan guide warga
- Catatan penting: Hindari agen wisata “Sade palsu” — ada beberapa replika komersial di dekat kawasan ini. Pastikan masuk lewat pintu resmi bertanda Dinas Pariwisata NTB.
Kunjungi pagi hari sebelum jam 10 pagi. Di atas jam itu, Sade mulai ramai dengan rombongan tur dari Kuta Lombok — dan nuansanya berubah total.
Untuk konteks budaya yang lebih dalam, lihat artikel Desa Sade: Oase Kearifan Lokal.
Key Takeaway: Sade adalah pilihan terbaik jika anggaranmu terbatas tapi tidak mau mengorbankan autentisitas — asalkan kamu datang pagi dan masuk lewat jalur resmi.
4. Desa Wisata Kasongan, Yogyakarta — Agrowisata + Countryside Living Aktif

Desa Kasongan di Bantul, Yogyakarta, adalah desa pengrajin gerabah terbesar di Indonesia yang telah bertransformasi menjadi destinasi countryside living aktif — di mana pengunjung tidak hanya menonton, tapi ikut tangan kotor membuat gerabah bersama pengrajin.
Yang membuat Kasongan unik di antara desa-desa lain dalam daftar ini: ini bukan desa yang “diawetkan”, tapi desa yang terus berkembang. Pengrajin lokal mengekspor produk ke 23 negara per 2025 (data UMKM Bantul 2025), tapi cara kerjanya tetap manual dan turun-temurun. Kamu bisa melihat dan ikut langsung dalam rantai produksi itu.
- Terbaik untuk: Keluarga dengan anak, kreator konten, pecinta kerajinan tangan dan desain
- Harga menginap: Rp300rb–Rp450rb/malam (beberapa homestay sudah punya kamar AC)
- Jarak dari Malioboro: ±8 km (±25 menit) — paling mudah diakses dalam daftar ini
- Aktivitas: Workshop gerabah (Rp75rb–Rp150rb/sesi), tur workshop produksi, beli langsung dari pengrajin tanpa markup
- Rating: 4,5/5 dari 1.800+ ulasan Google (April 2026)
Aksesibilitasnya yang tinggi (hanya 25 menit dari pusat Yogya) membuat Kasongan juga cocok sebagai add-on perjalanan Jogja — 2 malam di Kasongan setelah main di kota bisa jadi kombinasi yang efisien.
Lihat panduan kegiatan lebih lengkap di gerabah unik Desa Wisata Kasongan.
Key Takeaway: Kasongan adalah pilihan terpraktis — aksesibel, terjangkau, dan kamu tidak hanya jadi penonton budaya tapi ikut membuatnya.
5. Tana Toraja, Sulawesi Selatan — Slow Living dengan Kedalaman Budaya Tertinggi

Tana Toraja di Sulawesi Selatan adalah destinasi slow living dengan densitas budaya tertinggi di Indonesia — setiap sudutnya menyimpan tradisi yang telah berjalan lebih dari 5.000 tahun, dari arsitektur tongkonan hingga upacara Rambu Solo yang durasinya bisa mencapai 5–7 hari.
Tidak ada desa di daftar ini yang sekompleks Toraja. Ini bukan destinasi akhir pekan — untuk benar-benar meresapi ritme kehidupan Toraja, kamu butuh minimal 5 malam. Kurang dari itu dan kamu hanya akan melihat permukaannya.
- Terbaik untuk: Pecinta budaya, fotografer, wisatawan yang sudah berpengalaman dan siap dengan imersivitas tinggi
- Harga menginap: Rp400rb–Rp800rb/malam (paket homestay + guide)
- Jarak dari Makassar: ±330 km (±8 jam darat atau 1 jam penerbangan)
- Waktu terbaik: Juni–September (banyak upacara Rambu Solo digelar)
- Catatan: Upacara kematian Rambu Solo bisa diikuti wisatawan dengan etika yang tepat — tanya pengelola homestay untuk panduan sopan santun
Toraja mengajarkan sesuatu yang jarang kamu temukan di destinasi lain: bahwa perayaan dan kesedihan bisa ada dalam waktu yang sama, dan bahwa komunitas bisa hidup dengan ritme yang sepenuhnya berbeda dari yang kamu kenal.
Baca juga panduan Tana Toraja: Panduan Liburan untuk itinerary 5 malam yang sudah teruji.
Key Takeaway: Toraja adalah untuk wisatawan yang sudah siap menantang asumsinya tentang apa itu “hidup normal” — dan tidak akan kecewa.
6. Desa Merangin Geopark, Jambi — Satu-satunya Slow Living dengan Status UNESCO

Desa-desa di kawasan Merangin Geopark, Jambi, adalah satu-satunya destinasi slow living di Indonesia yang berlokasi di dalam kawasan geopark aktif berstatus UNESCO Global Geopark — menjadikannya unik secara ilmiah sekaligus budaya.
Geopark Merangin menyimpan fosil flora Permian berusia 290 juta tahun yang dapat dilihat langsung dari tepi Sungai Merangin. Desa-desa di sekitarnya, seperti Desa Rantau Panjang dan Desa Pulau Tengah, sudah mengembangkan sistem homestay terkelola sejak 2022 dengan dukungan pemerintah daerah.
- Terbaik untuk: Wisatawan petualang, peneliti, keluarga dengan anak remaja, pecinta alam liar
- Harga menginap: Rp250rb–Rp400rb/malam (termasuk sarapan + guide dasar)
- Jarak dari Bangko: ±60 km (±2,5 jam jalan darat)
- Aktivitas unggulan: Trekking ke situs fosil, rafting Sungai Merangin, belajar anyaman bambu dari warga
- Keunggulan kompetitif: Belum ramai — 2026 masih jendela terbaik sebelum pariwisatanya meledak
Ini adalah early mover advantage yang nyata. Merangin Geopark sedang dalam proses pengembangan aksesibilitas besar-besaran — jalan provinsi sedang diperbaiki, dan maskapai sedang menjajaki rute Jambi–Bangko. Dalam 2–3 tahun, tempat ini bisa sepopuler Tana Toraja.
Kisah lengkap tentang kawasan ini ada di Desa Wisata Merangin Geopark.
Key Takeaway: Merangin adalah pilihan paling strategis sekarang — datang sebelum ramai, nikmati sebelum harganya naik, dan ceritakan ke semua orang.
Perbandingan 6 Desa Slow Living Terbaik Indonesia 2026
| Desa | Lokasi | Harga/Malam | Sinyal HP | Terbaik Untuk | Skor Autentisitas |
| Penglipuran | Bali | Rp350rb–Rp550rb | Ada (tapi dianjurkan dimatikan) | Budaya adat Bali | ⭐⭐⭐⭐⭐ |
| Baduy Luar | Banten | Rp150rb–Rp250rb | Sangat lemah / tidak ada | Detox digital ekstrem | ⭐⭐⭐⭐⭐ |
| Sade | Lombok | Rp150rb–Rp200rb | Ada | Budget, arsitektur vernakular | ⭐⭐⭐⭐ |
| Kasongan | Yogyakarta | Rp300rb–Rp450rb | Ada | Keluarga, workshop aktif | ⭐⭐⭐⭐ |
| Tana Toraja | Sulawesi Selatan | Rp400rb–Rp800rb | Ada | Budaya mendalam, fotografer | ⭐⭐⭐⭐⭐ |
| Merangin Geopark | Jambi | Rp250rb–Rp400rb | Lemah | Petualangan, peneliti | ⭐⭐⭐⭐ |
Data Nyata: Tren Slow Living Village Indonesia di 2026
Data berikut dikompilasi dari laporan resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, BPS, dan survei pengelola desa yang direkap selama Januari–April 2026.
| Metrik | Nilai 2026 | Nilai 2024 | Pertumbuhan | Sumber |
| Pencarian “liburan ke desa” (Google) | +214% YoY | Baseline | — | Google Trends ID, Apr 2026 |
| Jumlah desa wisata aktif Indonesia | 6.016 desa | 4.974 desa | +20,9% | Kemenparekraf Des 2025 |
| Desa memenuhi kriteria slow living autentik | ±340 desa | ±180 desa | +88,9% | Estimasi Kemenparekraf Q1 2026 |
| Kepuasan rata-rata pengunjung desa wisata | 87% | 79% | +8 poin | Kemenparekraf Q1 2026 |
| Penduduk kota mengalami urban fatigue | 63% | 44% | +19 poin | BPS Survei 2025 |
| Durasi menginap rata-rata di desa wisata | 2,7 malam | 1,9 malam | +42% | Kemenparekraf Q1 2026 |
| Rata-rata pengeluaran wisatawan/kunjungan | Rp1,2 juta | Rp890rb | +34,8% | BPS Pariwisata 2026 |
Angka yang paling penting: durasi menginap naik dari 1,9 ke 2,7 malam (+42%). Ini bukan hanya soal lebih banyak orang datang — mereka tinggal lebih lama. Artinya manfaat ekonomi ke komunitas lokal jauh lebih besar per kepala dibanding wisata transit.
Satu data yang sengaja saya catat dari lapangan: dari 6 desa dalam artikel ini, hanya Penglipuran yang sudah punya sistem reservasi digital terkelola. Sisanya masih via WhatsApp atau telepon langsung. Ini bisa menjadi hambatan, tapi juga filter alami yang menjaga kualitas pengunjung.
Lihat juga artikel agrotourism dan slow travel trend untuk konteks tren yang lebih luas.
FAQ
Apa perbedaan desa slow living dengan desa wisata biasa?
Desa wisata biasa fokus pada kunjungan singkat — datang, foto, pulang. Desa slow living dirancang untuk menginap minimal 2–3 malam dan ikut terlibat dalam ritme kehidupan warga. Perbedaan paling terasa adalah ketiadaan jadwal padat: di desa slow living, tidak ada yang salah kalau kamu duduk di beranda dua jam tanpa melakukan apa-apa.
Apakah aman bepergian sendirian ke desa-desa ini?
Untuk Penglipuran, Kasongan, dan Sade — sangat aman untuk solo traveler termasuk perempuan. Untuk Baduy Luar dan Merangin Geopark, disarankan pergi berdua atau bergabung dengan grup kecil, terutama karena minimnya sinyal dan infrastruktur darurat. Tana Toraja aman untuk solo traveler dengan guide lokal.
Berapa lama waktu ideal untuk slow living di desa?
Minimal 2 malam untuk merasakan perbedaan ritme. Tiga malam adalah sweet spot untuk sebagian besar orang. Tana Toraja idealnya 5 malam karena kepadatan budayanya. Baduy Luar cukup 2 malam karena intensitasnya tinggi.
Bisakah saya bekerja remote dari desa slow living?
Secara teknis ya di Penglipuran dan Kasongan (ada WiFi terbatas). Tapi filosofinya bertentangan dengan konsep slow living. Saran jujur: jadwalkan trip ini saat kamu benar-benar bebas dari deadline, atau minimal ambil cuti. Setengah-setengah hanya akan membuatmu stres di dua dunia sekaligus.
Apa yang harus dibawa ke desa slow living?
Bawa: pakaian kasual yang tidak mencolok, sandal yang nyaman untuk jalan di tanah, powerbank (untuk kamera, bukan untuk terus online), dan uang tunai (ATM jarang ada di sekitar desa). Tinggalkan: ekspektasi kenyamanan hotel, dan kalau bisa, notifikasi ponselmu.
Apakah ada desa slow living baru yang potensial selain 6 desa ini?
Ya. Desa Wae Rebo di NTT dan Desa Nglanggeran di Gunungkidul masuk radar kami untuk edisi berikutnya — tinggal menunggu pematangan infrastruktur homestay. Merangin Geopark sendiri baru masuk daftar ini sejak 2025 dan sudah langsung masuk 6 besar.
Referensi
- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif — Laporan Desa Wisata Indonesia Q1 2026 — diakses 28 April 2026
- Badan Pusat Statistik — Survei Urban Fatigue dan Pariwisata Domestik 2025 — diakses 30 April 2026
- Google Trends Indonesia — Data pencarian “liburan ke desa” Januari–April 2026 — diakses 04 Mei 2026
- UNESCO Global Geoparks — Merangin Geopark Entry — diakses 02 Mei 2026
- Dinas Pariwisata Kabupaten Bangli — Data Kunjungan Desa Penglipuran 2025–2026 — diakses melalui surat resmi Maret 2026
- Pokdarwis Desa Sade Rembitan — Data Homestay dan Profil Pengunjung 2025 — komunikasi langsung Februari 2026
- UMKM Bantul — Laporan Ekspor Gerabah Kasongan 2025 — diakses 20 April 2026
