Ternyata Lima Desa Wisata RI Sudah Raih Gelar Best Tourism Village


Ringkasan: Banyak artikel masih menyebut empat desa wisata RI peraih Best Tourism Village. Hitungan itu berhenti di 2024. Sejak Oktober 2025, jumlahnya lima: Nglanggeran (2021), Penglipuran (2023), Jatiluwih dan Wukirsari (2024), serta Pemuteran (2025). Panduan ini merangkum siapa mereka, apa yang dinilai UN Tourism, dan cara berkunjung yang masuk akal.

Kalau kamu pernah membaca “empat desa wisata RI sudah raih gelar Best Tourism Village”, informasimu tidak salah. Hanya saja sudah ketinggalan satu desa. Daftar desa wisata RI peraih Best Tourism Village kini terdiri dari lima nama, dan satu desa lagi, Kemiren, sedang dibina lewat program pendampingan UN Tourism.

Apa itu Best Tourism Village dari UN Tourism?

Dokumen piagam resmi akreditasi program Best Tourism Villages dari UN Tourism di meja administrasi kementerian.

Best Tourism Villages by UN Tourism adalah program pengakuan bagi destinasi pedesaan dengan aset budaya dan alam yang terakreditasi, komitmen pada nilai komunitas, dan inovasi berkelanjutan. UN Tourism meluncurkannya pada 2021 di bawah Tourism for Rural Development Programme. Desa dinilai oleh dewan penasihat independen, bukan dipilih lewat voting publik.

Berapa Desa Wisata RI yang Sudah Meraih Gelar Best Tourism Village?

Peta kartografi Indonesia dengan penanda lima desa wisata peraih gelar Best Tourism Village di Yogyakarta dan Bali.

Jawabannya lima desa, menurut pernyataan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana pada Januari 2026. Daftar tahunnya sebagai berikut: Nglanggeran (2021), Penglipuran (2023), Jatiluwih (2024), Wukirsari (2024), dan Pemuteran (2025). Tidak ada nama Indonesia yang muncul di daftar tahun 2022 dalam sumber-sumber yang kami rujuk.

Kenapa angkanya sering terbaca “empat”? Karena banyak artikel ditulis antara akhir 2024 dan pertengahan 2025. Saat itu Pemuteran belum diumumkan. Pemuteran menerima penghargaan pada 17 Oktober 2025 di Huzhou, Tiongkok, menurut pemberitaan Kompas.

Satu catatan agar tidak keliru: Kementerian Pariwisata juga menyebut Desa Osing Kemiren di Banyuwangi dalam pengakuan 2025. Statusnya masuk Upgrade Programme, bukan peraih gelar Best Tourism Village. Jadi Kemiren belum masuk hitungan lima desa tadi.

Rekap Lima Desa Peraih Gelar dalam Satu Tabel

Lembar data rekapitulasi lima desa wisata peraih gelar Best Tourism Village lengkap dengan tahun dan karakteristiknya di meja riset.

Tabel ini adalah rekapitulasi kami dari sumber publik yang tercantum di bagian Sumber, bukan data survei lapangan.

DesaLokasiTahun GelarHal yang Sering DisorotCatatan Verifikasi
NglanggeranPatuk, Gunungkidul, DIY2021Pariwisata berbasis komunitas, Gunung Api PurbaDiumumkan 2 Desember 2021 (JPNN)
PenglipuranBangli, Bali2023Tata ruang adat, hutan bambuDiumumkan di Samarkand, 19 Oktober 2023 (Kemenparekraf)
JatiluwihPenebel, Tabanan, Bali2024Sawah terasering dengan sistem subakBersama Wukirsari, dari sekitar 260 kandidat
WukirsariBantul, DIY2024Batik tulis Giriloyo, Wayang WukirsariDiumumkan 15 November 2024
PemuteranGerokgak, Buleleng, Bali2025Konservasi terumbu karang oleh wargaDiterima 17 Oktober 2025 di Huzhou

Nglanggeran: Gelar Pertama untuk Indonesia (2021)

Lanskap bebatuan hitam raksasa Gunung Api Purba Nglanggeran di Gunungkidul Yogyakarta dengan latar ladang hijau warga.

Nglanggeran menjadi desa wisata Indonesia pertama yang meraih gelar ini. UN Tourism mengumumkannya pada 2 Desember 2021 di Madrid, menurut JPNN. Pada tahun itu Indonesia mengirim tiga kandidat: Nglanggeran, Tetebatu di Lombok Timur, dan Wae Rebo di Manggarai. Hanya Nglanggeran yang terpilih.

Desa ini berada di Kecamatan Patuk, Gunungkidul, sekitar 25 kilometer atau satu jam berkendara dari Kota Yogyakarta, menurut portal Visiting Jogja. Ikon utamanya Gunung Api Purba. Kawasan itu tercatat sebagai geosite di Gunung Sewu UNESCO Global Geopark sejak 2015, menurut Good News from Indonesia.

Yang membedakan Nglanggeran adalah cara pengelolaannya. Desa menjalankan model community-based tourism sejak 1999, dengan warga sebagai pelaku utama. Nglanggeran juga memegang ASEAN Community Based Tourism Award sejak 2017. Kepala Dinas Pariwisata DIY saat itu menyebut pengakuan UN Tourism sebagai bukti metode pemberdayaan warga yang tepat.

Aktivitas yang tersedia mencakup pendakian Gunung Api Purba, Embung Nglanggeran, dan kunjungan ke kampung budaya. Kami menulis lebih lengkap soal kenduri dan ritme warganya di panduan aktivitas desa wisata Indonesia.

Penglipuran: Tata Ruang Adat yang Dijaga Warga (2023)

Jalur setapak di dalam hutan bambu lestari seluas 45 hektare milik Desa Adat Penglipuran yang dijaga secara turun-temurun.

Penglipuran adalah satu dari 54 desa yang menerima gelar pada edisi 2023. Penyerahan piagam berlangsung di Samarkand, Uzbekistan, pada 19 Oktober 2023, menurut Kemenparekraf yang dikutip Good News from Indonesia. Pengelola desa, I Wayan Budiarta, menyebut gelar ini sebagai pengakuan bagi pariwisata Indonesia secara umum.

Profil resmi di Indonesia.travel mencatat luas wilayah desa 112 hektare. Pertaniannya mencakup sekitar 50 hektare, hutan bambu 45 hektare, dan permukiman 9 hektare. Jumlah penduduk per Januari 2021 tercatat 1.111 jiwa dari 277 kepala keluarga. Jaraknya sekitar 60 kilometer atau 1,5 jam dari Bandara Ngurah Rai.

Pengelolaannya berbasis komunitas. Semua pelaku wisata di desa berasal dari warga Penglipuran sendiri. Desa ini juga sudah lama dikenal lewat penghargaan lain, termasuk Indonesia Sustainable Tourism Award 2017 untuk kategori pelestarian budaya, menurut Pemprov Bali.

Kementerian Pariwisata kini memakai Penglipuran sebagai contoh tata kelola desa wisata. Pengelolanya rutin diundang menjadi narasumber di daerah lain, menurut ANTARA Bali. Untuk cerita suasana dan filosofi tata ruangnya, baca ulasan Desa Penglipuran dan harmoni adatnya.

Jatiluwih: Subak dan Sawah Terasering (2024)

Hamparan hijau terasering sawah subak Jatiluwih di kaki Gunung Batukaru Bali dengan saluran irigasi tradisional.

Jatiluwih berada di Kecamatan Penebel, Tabanan, di ketinggian sekitar 700 meter di dekat Gunung Batukaru, menurut TIN Media. Desa ini masuk daftar 55 Best Tourism Villages 2024 bersama Wukirsari. Seleksinya berasal dari sekitar 260 kandidat di lebih dari 60 negara anggota UN Tourism, menurut Tourism for Us.

Identitas Jatiluwih adalah terasering dengan sistem subak. Subak Jatiluwih sudah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2012. Artinya desa ini membawa dua pengakuan berbeda: warisan budaya dari UNESCO dan gelar pengelolaan wisata dari UN Tourism.

Perbedaan dua pengakuan itu penting. UNESCO menilai nilai universal sebuah lanskap. UN Tourism menilai bagaimana desa mengelola pariwisata dan pembangunan pedesaan. Keduanya bisa disandang desa yang sama, seperti Jatiluwih.

Harian Jogja mencatat bahwa terasering dengan sistem subak tetap lestari, meski Jatiluwih sudah menjadi tujuan wisata. Panduan perjalanan lengkapnya ada di artikel sawah terasering Jatiluwih dan sistem subaknya.

Wukirsari: Batik dan Seni Pertunjukan dari Bantul (2024)

Pengrajin perempuan membatik kain menggunakan canting dan malam panas di pendopo Kampung Batik Giriloyo Wukirsari Bantul.

Wukirsari berada di Bantul, Yogyakarta, dan dikenal sebagai kawasan batik tulis di Kampung Giriloyo. Pada 2024 Wukirsari menjadi desa Indonesia kedua yang menerima gelar tahun itu. Pengumuman global dilakukan pada 15 November 2024, menurut TIN Media.

Desa ini menonjol lewat program Wayang Wukirsari. Pengunjung diajak mengenal pewayangan dan belajar tari, teater, serta gamelan secara interaktif. Pendekatan ini menempatkan wisatawan sebagai peserta, bukan penonton.

Kementerian Pariwisata menyampaikan bahwa penilaian sertifikasi mengacu pada sembilan area evaluasi Best Tourism Villages, menurut Tourism for Us. Jaringan desa penerima kala itu mencapai 245 desa. Wukirsari dan Jatiluwih menambah wakil Indonesia sebagai bagian dari jaringan tersebut.

Kalau kamu menyukai pengalaman membatik, baca juga ulasan aktivitas desa wisata yang memuat cerita membatik di Giriloyo.

Pemuteran: Desa Pesisir yang Memulihkan Terumbu Karang (2025)

Terumbu karang mekar di atas struktur konservasi bawah laut Biorock di perairan pesisir Desa Pemuteran Buleleng Bali.

Pemuteran berada di Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali Utara. Desa ini menerima gelar Best Tourism Village 2025 di Huzhou, Tiongkok, pada 17 Oktober 2025. UN Tourism menetapkan 52 desa pada edisi itu, dipilih dari lebih dari 270 pendaftaran di 65 negara anggota.

Ceritanya berbeda dari empat desa sebelumnya. Menurut Indonesia.travel, terumbu karang Pemuteran pernah rusak parah. Warga lalu menghidupkan kembali desanya lewat pariwisata. Lokasinya dekat Taman Nasional Bali Barat dan Pulau Menjangan, sehingga menyelam dan snorkeling menjadi atraksi utama.

Pemuteran juga memegang ASEAN Tourism Standard untuk kategori Community-Based Tourism periode 2023–2025, menurut pemberitaan Madiun Tourism. Pemberitaan Media Indonesia mencatat komitmen Kementerian Pariwisata untuk terus mengampanyekan nilai UN Tourism. Tujuannya agar desa wisata lain memakai pariwisata sebagai jalan perubahan yang positif, inklusif, dan berkelanjutan.

Jadi Pemuteran melengkapi peta gelar Indonesia. Nglanggeran dan Wukirsari mewakili Yogyakarta, sedangkan Penglipuran, Jatiluwih, dan Pemuteran mewakili Bali. Tiga dari lima peraih gelar berada di Pulau Dewata.

Bagaimana UN Tourism Menilai Sebuah Desa?

Tim penilai memeriksa instrumen sembilan area evaluasi keberlanjutan desa wisata di balai desa.

Setiap negara anggota mengajukan paling banyak delapan desa melalui otoritas pariwisata nasional. Dewan penasihat independen kemudian menilai kandidat dalam sembilan area evaluasi. UN Tourism menyebut area itu mencakup sumber daya budaya dan alam, keberlanjutan ekonomi, pengembangan pariwisata, serta tata kelola dan keberlanjutan lingkungan.

Artinya desa tidak bisa mendaftar sendiri. Pengajuan harus lewat pemerintah pusat. Dalam kasus 2021, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengirim tiga desa, dan hanya satu yang lolos.

Skor tinggi di satu aspek tidak cukup. Desa dengan pemandangan indah tetapi pengelolaan lemah tetap bisa gagal. Karena itu gelar ini lebih mencerminkan sistem pengelolaan ketimbang keindahan semata.

Gelar Best Tourism Village vs Upgrade Programme

Lembar matriks perbandingan status akreditasi penuh Best Tourism Village dengan status pembinaan Upgrade Programme seperti Desa Kemiren.

Upgrade Programme mendampingi desa berpotensi tinggi yang belum memenuhi semua kriteria. Desa di program ini ikut jaringan Best Tourism Villages, tetapi belum membawa gelar. Perbedaan ini sering tertukar di pemberitaan.

#DesaProvinsiStatusTahun
1NglanggeranDI YogyakartaBest Tourism Village2021
2PenglipuranBaliBest Tourism Village2023
3JatiluwihBaliBest Tourism Village2024
4WukirsariDI YogyakartaBest Tourism Village2024
5PemuteranBaliBest Tourism Village2025
6KemirenJawa TimurUpgrade Programme2025
7BilebanteNusa Tenggara BaratUpgrade Programme2023
8PelaKalimantan TimurUpgrade Programme2023
9TaroBaliUpgrade Programme2023

Sumber tabel: Kementerian Pariwisata, Kemenparekraf, dan pemberitaan Kompas dan Bali.com. Status Upgrade Programme untuk Bilebante, Pela, dan Taro berasal dari pengumuman 2023.

Bagaimana dengan Edisi 2026?

Layar laptop menampilkan jadwal pendaftaran dan seleksi global UN Tourism Best Tourism Villages edisi 2026.

Per 6 Oktober 2026, kami belum menemukan pengumuman resmi daftar Best Tourism Villages 2026. UN Tourism membuka pendaftaran sampai 9 Juni 2026. Jadwal pengumumannya kuartal ketiga 2026, bertepatan dengan acara UN Tourism, menurut halaman resmi UN Tourism.

Satu media Vietnam menulis bahwa pemenang akan diumumkan pada kuartal keempat. Perbedaan ini menunjukkan jadwal masih bisa bergeser. Cek halaman resmi UN Tourism untuk kepastian.

Sampai daftar 2026 keluar, jumlah lima desa tetap berlaku. Jika ada desa Indonesia baru terpilih, angkanya akan bertambah. Panduan ini akan kami perbarui begitu pengumuman resmi terbit.

Jaringan globalnya juga terus tumbuh. Setelah edisi 2025, jaringan mencapai 319 desa. Menurut UN Tourism, jumlah itu mencakup lebih dari 230 desa peraih gelar dan 83 desa Upgrade Programme di 65 negara.

Cara Menyusun Kunjungan ke Desa Peraih Gelar

Traveler menyusun buku catatan rencana perjalanan, reservasi homestay, dan peta rute transportasi desa wisata.

Cara menyusun kunjungan ke desa wisata peraih gelar: 1) pilih satu desa sesuai minat, 2) hubungi pengelola resmi, 3) tentukan lama menginap, 4) reservasi homestay, 5) ikuti aturan adat setempat. Langkah-langkahnya sebagai berikut.

  1. Tentukan minatmu dulu. Pecinta alam cocok ke Nglanggeran atau Pemuteran. Penyuka budaya cocok ke Penglipuran atau Wukirsari. Pecinta pemandangan pertanian cocok ke Jatiluwih.
  2. Hubungi pengelola resmi. Tarif, kuota, dan jam kunjungan ditetapkan pengelola desa, dan bisa berubah. Jangan mengandalkan angka dari artikel lama.
  3. Hitung jarak dari bandara. Penglipuran sekitar 1,5 jam dari Bandara Ngurah Rai. Nglanggeran sekitar satu jam dari Kota Yogyakarta. Rencanakan transportasi sebelum berangkat.
  4. Menginap, jangan hanya mampir. Desa-desa ini dibangun untuk pengalaman, bukan foto singkat. Menginap membantu ekonomi warga langsung.
  5. Ikuti aturan adat dan lingkungan. Terutama di Penglipuran dan Jatiluwih, yang masih menjalankan adat dan pertanian aktif.
  6. Ikut aktivitas warga. Membatik, memasak, atau kenduri memberi pemahaman yang tidak didapat dari sekadar berkeliling.

Untuk memilih penginapan, baca daftar homestay pedesaan terbaik di Indonesia yang memuat Nglanggeran dan Penglipuran. Kalau kamu mencari ritme lebih lambat, rekomendasi desa slow living terbaik Indonesia bisa jadi pembanding.

Hal yang Perlu Dicermati dari Sebuah Gelar

Papan petunjuk tata tertib dan batas kapasitas kunjungan harian ramah lingkungan di pintu masuk desa wisata adat.

Gelar Best Tourism Village adalah pengakuan atas kondisi saat penilaian. Kualitas pengelolaan bisa berubah. Lonjakan pengunjung setelah gelar berpotensi menekan warga dan lingkungan, sehingga pengelolaannya perlu terus dipantau.

Karena itu, jadikan gelar sebagai titik awal riset, bukan jaminan. Baca kabar terbaru dari pengelola atau pemerintah daerah. Tanyakan langsung soal kuota dan aturan sebelum berangkat.

Pendampingan memang menjadi bagian dari programnya. Pada Desember 2025 Kementerian Pariwisata menyatakan akan melanjutkan program desa wisata dan mendampingi 15 desa wisata pada 2026, menurut ANTARA.

FAQ — Desa Wisata RI Peraih Best Tourism Village

Apa itu Best Tourism Village?

Best Tourism Villages by UN Tourism adalah pengakuan bagi destinasi pedesaan dengan aset budaya dan alam terakreditasi, komitmen pada nilai komunitas, dan inovasi berkelanjutan. Program dimulai pada 2021. Penilaian dilakukan dewan penasihat independen, dan setiap negara mengajukan maksimal delapan desa per edisi.

Desa mana saja di Indonesia yang meraih gelar ini?

Ada lima: Nglanggeran (2021), Penglipuran (2023), Jatiluwih dan Wukirsari (2024), serta Pemuteran (2025). Desa Osing Kemiren di Banyuwangi masuk Upgrade Programme 2025, bukan peraih gelar.

Apakah Wae Rebo dan Tetebatu pernah meraih gelar ini?

Belum, berdasarkan sumber yang kami rujuk. Keduanya ikut sebagai kandidat Indonesia pada 2021, tetapi yang terpilih hanya Nglanggeran.

Kapan daftar Best Tourism Villages 2026 diumumkan?

UN Tourism menjadwalkan kuartal ketiga 2026. Per 6 Oktober 2026 kami belum menemukan pengumuman resmi. Cek halaman resmi UN Tourism untuk pembaruan.

Berapa biaya berkunjung ke desa-desa ini?

Tidak ada tarif tunggal. Tiap pengelola desa menetapkan sendiri tiket, tarif homestay, dan paket aktivitas, dan angkanya bisa berubah. Hubungi pengelola resmi sebelum memesan.

Sumber


Ditulis oleh Lara Appleton, penulis di Appletons Retreat.

Author: Lara Appleton

Halo, saya Laras. Blog ini lahir dari rasa cinta pada kehidupan pedesaan yang tenang dan hangat. Di sini saya berbagi tentang tempat-tempat tersembunyi, cerita perjalanan hati, dan pengalaman staycation yang berkesan.